Pendakian gunung Kerenceng 1765 Mdpl

Pendakian ter-impulsif yang pernah saya lakukan. Ya. Sangat impulsif. Berawal dari ajakan kakak untuk mendaki gunung Kerenceng bersama rekan-rekannya yang suka mendaki, saya pun penasaran dengan gunung satu ini. Sebenarnya, saya sendiri baru pertama mendengar nama Kerenceng. Di area Bandung Timur, Hanya gunung Geulis, Kareumbi dan Manglayang, yang saya tahu. Padahal, selain gunung tersebut masih banyak gunung lainnya. Salah satunya Gunung Kerenceng ini.

Awalnya ragu ikut mendaki gunung setinggi 1736 Mdpl ini, namun karena sudah beberapa bulan tidak naik gunung, rasa-rasanya tidak ada salahnya kaki ini diajak menapaki jalanan terjal kembali, tambah lagi otak sudah jenuh. Perlu menghirup udara pegunungan. πŸ˜„

Dari segi ketinggian gunung yang mencakup kecamatan Sumedang Selatan, kecamatan Cimanggung dan kecamatan Pamulihan ini memang tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan gunung-gunung yang lebih terkenal di area Bandung Timur atau di daerah Garut lainnya seperti gunung Manglayang ataupun Papandayan. Namun, untuk urusan trek ataupun view di atas puncaknya, jangan ditanya, tidak kalah indah dibanding gunung-gunung yang lebih dulu pamor. Dan hal yang paling membedakannya adalah, gunung Kerenceng masih tergolong gunung yang masih alami karena belum begitu dikenal para pendaki gunung.

Karena mendadak, tidak banyak persiapan yang saya lakukan apalagi saat diberitahu kalau pendakian kali ini tidak pakai acara nge-camp tapi tek-tok (naik turun gunung di hari yang sama), hanya tas ransel berisi air minum, sedikit cemilan, jas hujan, dompet dan HP serta jaket. Sepatu yang saya pakai pun hanya sepatu trekking biasa yang saya pakai sehari-hari. Informasi trek dan lainnya pun tidak banyak saya cari, selain memang tidak banyak catatan yang membahas pendakian gunung satu ini.

Pukul 08.00 pagi start dari rumah bersama 10 orang lainnya, kami pun berangkat menggunakan sepeda motor ke titik pendakian di daerah Pasir tengah, Cimanggung, Kab. Sumedang. Sesampainya disana, sekitar pukul 09.00, sudah ada 5 orang lainnya yang menunggu kami. Merekalah yang akan memandu kami mendaki gunung Kerenceng. Total ada 15 orang. Jumlah yang cukup untuk pendakian pertama ke gunung yang baru didaki. 7 Pria dan 8 Wanita. Setelah briefing singkat, kami pun langsung berangkat ke pintu masuk kebun warga dan hutan.

Foto bersama sebelun naik-naik ke puncak gunung

Gunung yang diduga pernah mengalami aktivitas vulkanik ini memiliki dua jalur pendakian. Pertama lewat kampung Jambu aer maupun kampung Sayuran di desa Sindulang, Kecamatan Cimanggung. Kedua, lewat kampung Situhiang, Desa Tegalmanggung, Kecamatan Cimanggung. Jalur yang paling banyak digunakan adalah lewat Sindulang.

Perjalanan naik yang penuh drama

Jalur yang kami pilih (yang dipilih oleh rekan kami yang sudah pernah naik lebih tepatnya) adalah jalur lewat kampung Situhiang. Setelah memasuki perkebunan warga dan pintu masuk hutan, kita akan disambut beberapa koloni pohon bambu yang besar serta beberapa pohon pinus.

Setelah melewati hutan, kami pun melewati semak belukar dan padang ilalang yang cukup tinggi. Melihat jalurnya yang hanya cukup satu orang saja, saya sudah bisa menebak bahwa jalur yang kami pilih jarang sekali dilewati oleh penduduk. Kebanyakan jalan yang kami lalui adalah jalur air saat hujan turun. Dan, inilah kali pertama saya mendaki gunung yang masih belum terjamah dalam arti sebenarnya. Hanya ada rombongan kami di sepanjang jalur. Tidak ada penduduk atau pun pendaki lain sama sekali.

Selepas melewati hutan dan sempat beristirahat di tanah yang cukup lapang dengan pemandangan yang ciamik, drama pertama dimulai. Saat kami melewati hutan patambon, ternyata jalan yang dipilih oleh rekan kami salah. Untuk sampai ke jalur yang seharusnya, kami dihadapkan pada sebuah tebing curam 45 derajat. Tanpa bantuan tali dan lainnya, mau tidak mau kami harus sampai ke atas.

Ingin rasanya mengutuki dia yang sudah membawa kami melewati jalur anti-mainstream ini, namun saya sadar bahwa tidak ada gunanya mengeluh, apalagi menggerutu. Jalani saja! Kata paling ampuh saat kita dihadapkan trek berat seperti ini. Mau gimana lagi, tak ada pilihan lain selain menapaki tebing dengan berpegangan pada akar dan rerumputan di sekitar tebing. Dan berpegang pada pertolongan Tuhan pastinya. πŸ˜…

Satu persatu dari kami naik ke atas, dibantu oleh rekan kami lainnya yang sudah duluan sampai diatas. Tinggal dua orang di belakang saya. Belum sampai ke atas, tiba-tiba terdengar suara orang berteriak dari atas menyusul suara seperti ada yang jatuh ke bawah. Ternyata, salah satu rekan kami terjatuh ke bawah sesaat setelah dia sampai di atas. Dengan cekatan, salah satu rekan kami bernama Jali, turun ke bawah melihat kondisi teman kami yang jatuh. Setelah dipanggil ternyata, rekan kami yang terjatuh masih menjawab dan bilang baik-baik saja. Syukurlah. Kaget campur khawatir dengan nasib rekan kami. Tak ada pilihan lain. Dengan kondisi hati tak karuan, saya pun memaksakan kaki untuk tetap memanjat tebing penuh semak belukar. Dengan susah payah dan penuh kehati-hatian, saya pun sampai di atas dengan selamat. Alhamdulillah. Sungguh awal pendakian yang menguras energi.

Perjalanan pun kami lanjutkan melewati hutan sekunder dengan pepohonan yang tidak begitu rapat. Trek sulit baru kami temui setelah hampir 2 jam berjalan. Deretan tanjakan seakan tak berujung menanti di depan kami. Tanjakan dengan bebatuan. Saya bisa perkirakan bahwa ini adalah jalur air hujan. Hampir satu jam, trek semacam ini kami lewati. Hingga kami lihat sebuah tebing tinggi yang kami kira itu adalah puncak gunung Kerenceng. Ternyata, kami salah. Itu adalah puncak bayangan. Puncak sebenarnya ada di balik puncak bayangan tersebut. Oke. gunung Kerenceng ini gunung PHP juga ternyata. πŸ˜‚

View indah mulai terlihat. Jalan setapak kami lewati dengan tanah berkontur miring di sisi kiri dan kanan. Jika pandangan kita arahkan ke kiri, terlihat hutan Kareumbi dengan pepohonan yang lebat dan rapat. Suara satwa hutan mulai terdengar sayup-sayup. Kami harus lebih berkonsentrasi saat melewati trek menuju puncak bayangan. Gagal fokus sedikit bisa terpeleset dan fatal akibatnya.

Di antara semak dan ilalang

Gara-gara salah jalur

Jalur menanjak menuju puncak bayangan


Panorama indah sepanjang jalur

Hutan Kareumbi terlihat dari gunung Kerenceng

Puncak yang sepi

Setelah kurang lebih satu jam kami berjalan sambil sesekali mengabadikan foto, sekitar pukul 13.00 sampailah kami di puncak bayangan Gunung Kerenceng. Areanya tidak terlalu luas. Saya perkirakan maksimal 3 tenda bisa dibangun disini. Kabut mulai naik, menutupi perlahan panorama alam disekitar kami. Terlihat puncak Kerenceng sebenarnya dari tempat kami berada.

Petunjuk arah ke puncak Kerenceng dari puncak bayangan

Saya agak terkejut melihat rupa puncak yang dimaksud. Untuk ukuran sebuah puncak gunung, terlalu kecil menurut saya. Dari kejauhan, terlihat ada 2 orang yang berada di atas puncak saat itu. Kabut semakin tebal, hingga menutupi jalur menuju puncak.

Rekan kami yang sudah pernah naik ke puncak sebelumnya, tidak menyarankan untuk naik ke puncak Kerenceng, karena trek menuju kesana cukup berbahaya dengan jalur kiri kanan jurang dan sempit hanya cukup untuk satu orang. Sebagian besar sudah kelelahan dan memilih beristirahat di puncak bayangan sambil menikmati bekal makan siang yang dibawa dari rumah.

Karena saya dan rekan saya yang bernama Rofi penasaran dengan puncaknya, akhirnya kami berdua memutuskan untuk naik ke puncak. Ada untungnya kabut tebal menyelimuti jalur saat itu, sehingga jurang tak jelas terlihat oleh kami. Saat mulai menapaki jalur ke puncak ternyata benar adanya. Jalur yang sempit dengan sisi kiri dan kanan jurang tinggi membuat jantung saya berdegup cukup kencang. Satu-satunya cara adalah fokus melihat jalur yang saya tapaki. Tak sedikitpun rasa ingin mengambil foto saat melewati jalur ini. Yang ada, kami hanya sibuk berdoa dan fokus dengan langkah masing-masing.

Setelah kurang dari setengah jam, sampailah kami di puncak Kerenceng. Puncak yang benar-benar kecil. Mungkin hanya cukup 7-8 orang berdiri di atas puncak ini. Baru kali ini saya menapaki puncak gunung yang kecil dan sepiiii sekali. Tak terdengar suara orang sibuk mengarahkan gaya untuk berfoto ataupun berkata ‘yeay! puncak euy’ dan ungkapan bahagia lainnya dari pendaki yang biasanya terdengar ramai setiap berhasil mencapai puncak gunung. Berbeda dengan pengalaman kali ini, yang terdengar hanyalah suara burung elang, satwa hutan, semilir angin berkabut, dan suara pohon tersapu angin. Agak horor sih. Saya seperti berada di hutan terlarangnya Harry Potter. πŸ˜‚

View dari puncak Kerenceng

Silent

Tak lebih dari 15 menit, setelah berdiam diri menikmati keindahan alam dari puncak dan mengambil beberapa foto, kami pun segera turun mengingat kabut semakin tebal. Khawatir angin kencang dan hujan deras turun saat kami melewati lampingan tipis jalur puncak.

Benar saja. Kabut semakin cepat naik. Jarak pandang semakin pendek. Hutan dan jalur pun terlihat makin tak jelas. Saya memilih berada di belakang Rofi saat turun dari puncak. Kaki sudah mulai lelah, namun rasa ingin cepat sampai puncak bayangan lebih besar. Di tengah jalur dengan lampingan yang tipis, tiba-tiba kaki kehilangan keseimbangan dan terpeleset ke arah kiri. Bahkan suara ‘aduh’ saya pun kalah berisik dengan suara angin berkabut saat itu. Padahal jarak Rofi dan saya tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 5 meter, tapi dengan jarak segitu pun suara saya tak terdengar. Untungnya, saya terpeleset ke arah kiri yang kontur tanahnya miring, bukan sisi kanan yang lebih curam jadi lebih mudah bagi saya untuk menahan kaki kiri saya.

Setelah 15 menit perjalanan dari puncak utama ke puncak bayangan kami pun mendengar sayup-sayup suara orang tertawa dari arah depan kami. Ah, sungguh lega rasanya. Perjalanan singkat secara waktu namun terasa lama rasanya menyisakan rasa yang tak mampu saya gambarkan. Selalu ada hal spesial yang saya rasakan ketika menapaki jalur menuju puncak. Mungkin semacam rasa bahwa ternyata saya ini makhluk yang benar-benar lemah dan tidak ada apa-apanya. Diberi jalur lamping tipis seperti itu saja, cukup membuat saya merasa takut dan ingin menyerah. Apa kabar dengan jalan Shirotol mustaqim ya? πŸ˜…

Sesampainya di puncak bayangan, terpal berukuran tak terlalu besar sudah tergelar. Terlihat beberapa rekan saya membereskan satu persatu kertas nasi kosong yang isinya sudah dilahap habis. Beberapa orang lagi asyik berbincang sambil menghisap rokok di sudut lainnya. Melihat kami berdua muncul diantara kabut, terlihat raut muka lega dari wajah mereka terutama kakak saya yang sejak tadi berusaha menelpon tapi hasilnya nihil. Rasa lelah terobati setelah melahap bekal makan siang yang sudah disiapkan untuk kami berdua.

Kabut tebal yang datang memang ada maksudnya. Tiba-tiba hujan deras turun, membuat semuanya sibuk mencari cara bagaimana agar kami semua terlindungi dari derasnya hujan. Flysheet mulai dipasang seadanya. Yang penting kami tidak kehujanan. Karena tidak ada yang membawa tenda satu pun, kami pun berteduh dengan alat seadanya. Hujan semakin deras. Tak terlihat lagi panorama hutan dan deretan gunung di sekeliling kami. Yang terlihat hanya kabut, kabut dan kabut. Jam menunjukkan pukul 15.00. Itu berarti sudah 2 jam kami berada di puncak bayangan. Awalnya, kami hanya akan beristirahat disini 1 jam saja. Mengingat kami harus turun sebelum matahari terbenam. Namun, hujan deras yang mengguyur gunung Kerenceng saat itu memaksa kami untuk bertahan disini lebih lama 1 jam dari rencana awal.

Perjalanan turun yang melelahkan

Pukul 15.00 lewat hujan lebat mulai reda berganti hujan gerimis. Tanpa berpikir panjang, kami pun sepakat segera berkemas dan membersihkan semua sampah untuk dibawa serta turun. Tak lupa jas hujan kami pakai, mengingat air hujan tak sepenuhnya hilang.

Satu hal yang kami khawatirkan adalah hujan deras yang turun tadi sudah pasti akan membuat jalur turun akan semakin berat kami lewati nanti. Tanah licin, sempit dan aliran air hujan yang pasti mengiringi langkah kami menjadi tantangan yang harus kami hadapi. Ditambah kondisi fisik yang tak sekuat saat naik menjadikan tiap orang harus lebih memperhatikan satu sama lain. Inilah pelajaran lainnya dari mendaki gunung. Kadang kita dihadapkan pada hal diluar harapan kita. Namun, dengan cara itulah sifat sosial kita dipaksa muncul. Rasa solidaritas, kepedulian, menahan ego untuk ingin segera turun, saling memperhatikan satu sama lain maupun saling tolong menolong saat ada rekan kita yang terpeleset atau kelelahan. Pelajaran semacam itulah yang kadang tidak kita temukan setelah berada di dataran rendah.

Jalur sempit dari puncak bayangan kami lewati dengan sangat hati-hati. Benar saja. Tanah yang sebelumnya keras, berubah sangat licin. Hujannya awet pula. Perjalanan turun ternyata lebih menguras energi ketimbang saat naik. Kaki kami sudah bersahabat dengan genangan air semata kaki. Mengingat jalur yang kami lewati memang jalur air hujan. Selepas turunan terjal dari puncak bayangan, jalur yang kami lewati berganti ke jalur yang lebih bersahabat. Turunannya tak terlalu terjal, hanya semak-semak setinggi badan yang harus kami halau setiap kami lewat.

Jalur yang licin setelah diguyur hujan deras

Langit mulai cerah kembali walau matahari masih malu-malu untuk muncul. Kami pun berhenti di sebuah tanah lapang kecil dan tertulis ‘pos 2’ pada sebatang pohon di area tersebut. Rasa-rasanya saat naik, saya ga ngeuh ada pos ini. Ternyata memang jalur turun sedikit berbeda dengan jalur naik tadi. Akhirnya, kami semua beristirahat sejenak sambil menunaikan ibadah shalat ashar.

img20180317165403-2026040576.jpg

Area camp di pos I

Setelah melepas lelah sejenak, kami pun melanjutkan perjalanan turun. Dan, insiden saat perjalanan naik terulang. Salah jalur. Ya. Kami kembali melewati jalur yang salah. Turunan cukup extrim harus kami lewati tanpa bantuan tali dan lainnya, hanya mengandalkan akar pohon dan semak samping kiri dan kanan. Beberapa kali masing-masing dari kami terpeleset lalu berdiri lagi, terpeleset lalu berdiri lagi. Memang tidak lama jalur seperti ini, tapi tetap saja dengan kondisi fisik yang sudah lelah, rasanya lama sekali sampai ke jalur yang benar. Akhirnya, sampailah kami di jalur yang seharusnya.

Matahari sudah mulai benar-benar tenggelam. Jam menunjukkan pukul 17.30, itu berarti kami harus mempercepat langkah kami, agar bisa sampai rumah penduduk sebelum langit benar-benar gelap. Telat pukul 18.00 Kami sampai di hutan dengan beragam pohon yang cukup besar serta beberapa pohon bambu yang berkoloni. Suasana seperti ini yang saya tidak suka. Trek malam diantara hutan. Kami lewati area ini dengan langkah yang hampir bisa dibilang setengah berlari karena ingin cepat sampai. πŸ˜„

Pukul 18.30 sampailah kami di rumah salah satu rekan kami yang dijadikan titik kumpul awal pendakian tadi pagi. Lega rasanya. Saya tidak menyangka perjalanan naik gunung Kerenceng cukup membuat badan seletih ini. Padahal saya pikir dengan ketinggian gunung yang tak terlalu tinggi dengan rencana pendakian tek-tok, pendakiannya akan mudah, namun saya salah. Pembelajaran yang bisa saya ambil adalah jamgan remehkan gunung sependek apapun itu. Karena tiap gunung memiliki karakteristiknya masing-masing.

Jika ditotal, perjalanan ke gunung Kerenceng memakan waktu hampir 8 jam. Dengan kondisi santai dan banyak berhentinya.

Beberapa saran dari saya untuk kalian yang akan mendaki gunung Kerenceng:

  • Sebaiknya mendaki melalui jalur jambu aer yang lebih familiar dan banyak dilalui penduduk
  • Jika akan melakukan pendakian secara tek-tok, mendakilah lebih pagi agar bisa turun sebelum matahari terbenam
  • Pakai baju berbahan ringan dan mudah kering, terutama saat musim hujan dan jangan lupa bawa jas hujan
  • Saat musim kemarau bawa alat pelindung kepala karena udaranya panas mengingat tidak terlalu banyak pohon yang tinggi.
  • Mendakilah dengan orang yang sudah paham dan pernah naik Gunjung Kerenceng agar perjalanannya lebih lancar.
  • Walaupun tergolong gunung yang pendek, namun kondisi fisik tetap harus disiapkan.
  • Bawa sampahmu dan tetap jaga kelestarian gunung Kerenceng, mengingat gunung Kerenceng masih tergolong gunung yang alami.

Itulah pengalaman saya mendaki Gunung Kerenceng, Sumedang. Semoga bermanfaat. Jika ada saran atau tips lain tentang pendakian gunung Kerenceng, tinggalkan komentarmu dibawah ya.

Salam lestari.

Ereveld Ancol : Tak ada yang diuntungkan dari sebuah peperangan

Foto : wikipedia.com

Walaupun berada di komplek wisata Ancol, nyatanya tak banyak pengunjung yang tahu atau memang tidak dibuat penasaran dengan sebuah tempat yang tertutup gerbang tinggi bertuliskan Ereveld Ancol. Setidaknya itu yang saya rasakan saat berkunjung kesana bersama beberapa rekan sesama penyuka sejarah. Hanya sepasang muda mudi yang celingak celinguk mengintip ke bagian dalam Ereveld seperti ragu-ragu sekaligus penasaran dengan apa yang ada didalam sana.

Sebuah tempat yang sunyi, berada di sudut Ancol yang nyatanya jauh berpuluh-puluh tahun ke belakang, disana pernah terjadi sebuah peristiwa pembantaian korban perang oleh tentara Jepang pada masa PD II. Sebuah makam kehormatan Belanda yang pertama didirikan oleh dinas pemakaman tentara sebagai penghormatan bagi para korban PD II antara tahun 1942-1945.

Mengunjungi Ereveld tak ubahnya seperti melihat bukti bahwa tak ada yang diuntungkan dari sebuah peperangan. Disini kita bisa melihat deretan nisan yang tersusun rapi dengan latar belakang pemilik nisan dari beragam multi etnis dan agama.

Berjalan diantara nisan yang tersusun rapi

Ereveld Ancol. Satu dari 7 ereveld yang tersebar di seluruh Indonesia memang luasnya tak sebesar ereveld lainnya. Namun, yang berbeda dari ereveld lainnya, ereveld ini bukan hanya tempat para korban dimakamkan saja, namun banyak korban dieksekusi mati disini! Tepat di bawah pohon Mindi atau Ailantus Excelsia itu dengan kejamnya tentara Jepang membantai satu persatu korban perang, untuk kemudian mereka bawa dan mereka buang ke sebuah lubang tak jauh dari pohon tadi. Mereka jejalkan semua mayat tadi, lalu mereka tandai di atasnya dengan kayu berbentuk salib bertuliskan ‘makam orang yang sudah meninggal’. Kini, lubang tersebut berada dalam monumen paling besar disana seakan menjadi simbol kesedihan utama ereveld Ancol.

Dalam bahasa Indonesia berarti ‘ Jiwa mereka telah menang’

Kini, mayat-mayat tersebut ditempatkan lebih layak di area lain Ereveld dengan nisan bertuliskan nama dan tahun meninggalnya bagi yang beruntung identitasnya diketahui. Sedangkan bagi yang tidak diketahui tertulis ‘Geexecuteerde’ (dieksekusi) tanpa keterangan nama dan tempatnya.

img20180330173304-1502337334.jpg

Bentuk nisan yang berbeda-beda

Bentuk nisan pun berbeda-beda disesuaikan dengan agama yang korban anut. Kristen, Muslim, Budha, yahudi dan satu lagi bentuk nisan untuk makam masal. Hanya bentuk nisan yahudi yang tidak ada di ereveld Ancol karena tidak ada jenazah yang beragama Yahudi yang dimakamkan disini.

Perihal penempatan jenazahnya tak ada aturan khusus. Semuanya ditempatkan sesuai dengan kedatangan jenazah. Oleh karena itu, semuanya berbaur antara nisan laki-laki dan perempuan. Kristen, Budha maupun Islam.

Tak hanya korban pembantaian di bawah pohon Mindi saja yang dikuburkan disini. Jenazah yang dieksekusi di wilayah lainnya seperti Mandor, Kendari, Brastagi, Banjarmasin, Lembang dll turut dikuburkan di Ereveld Ancol. Total ada sekitar 2000 jenazah korban perang yang dimakamkan di Ereveld Ancol ini.

Berbagi kisah tentang peristiwa masa lalu

Satu hal yang mungkin jadi pertanyaan besar dibenak kita saat berkunjung ke Ereveld adalah, mengapa orang yang dimakamkan bukan hanya orang Belanda saja, melainkan orang diluar Belanda bahkan orang Indonesia pun turut dimakamkan di Ereveld? Apakah orang diluar orang Belanda tersebut membelot dan membela Belanda hingga jadi sasaran tentara Jepang dan akhirnya dieksekusi?

Perihal ini, setiap nama pada nisan punya kisahnya masing-masing. Setidaknya itu yang pak Dicky, pengurus dari Ereveld Ancol ceritakan pada kami. Beliau mengambil beberapa contoh korban yang dimakamkan disini. Salah satunya adalah seorang suster yang dieksekusi lantaran membantu tentara sekutu yang terluka. Ketika diinterogasi oleh tentara Jepang, suster tersebut bersikukuh menjawab bahwa dia tidak menyembunyikan atau membantu tentara sekutu. Namun, apa daya bukti perban berlumuran darah cukup menjadi alasan kuat bagi tentara Jepang untuk mengeksekusi suster tersebut hingga meninggal dunia.

Dari orang pribumi sendiri ada sebuah nama yang mungkin terlupakan dalam sejarah bangsa kita. Prof. Dr. Achmad Mochtar, direktur pertama Lembaga Eijkman yang difitnah dan dieksekusi pada tahun 1945. Beliau dituduh melakukan sabotase atas meninggalnya ratusan romusha pada tahun 1945 setelah disuntik vaksin tetanus. Beliau menolak dengan tegas karena merasa tidak bersalah. Namun, ia akhirnya memilih menandatangani surat pernyataan bersalah demi menyelamatkan rekan ilmuwannya setelah pihak Jepang menyiksa satu persatu rekan ilmuwannya tersebut, tak jauh dari tempat penahanan beliau. Kini, jenazahnya terkubur bersama 10 korban lainnya dalam satu liang yang ditandai dengan papan makam masal (Verzamelbord).

Mendengar penuturan pak Dicky tersebut, semburat senja sore itu terasa pahit bagi kami. Seolah, kami dapat merasakan betapa sulitnya kondisi yang dialami para korban pada saat itu.

Setelah ditunjukkan satu persatu nisan yang tadi diceritakan, sampailah kami di pohon Mindi yang diceritakan di awal. Sebuah pohon yang tak terlalu tinggi dan kini telah diawetkan. Pohon tersebut berdiri tegak seolah berkata ‘disinilah aku. Saksi bisu saat nyawa manusia seolah tak ada harganya. Dianiaya dan dibantai tepat berada didepanku’

Pohon Mindi yang telah diawetkan

Di sekeliling pohon Mindi terdapat tempat duduk yang dibuat setengah lingkaran. Jika kita lebih mendekat lagi, akan terlihat sebuah puisi karya Laurence Benyon, berjudul ‘For the Fallen’ menempel di badan pohon.

We shall remember them..

Tak jauh dari pohon Mindi, ada sebuah makam yang terpisah dari makam lainnya. Hanya satu. Berada dekat monumen dan pohon Mindi. Tertulis sebuah nama ‘L. Ubels’ pada nisannya. Siapakah dia? Kenapa makamnya terpisah sendiri?

Seolah paham dengan apa yang kami pikirkan, pak Dicky pun menjelaskan bahwa jenazah yang makamnya beda sendiri itu adalah seorang wanita muda yang meninggal dieksekusi saat berusia 24 tahun. Alasan kenapa makamnya terpisah sendiri adalah permintaan khusus dari keluarganya langsung ke ratu Belanda. Kisah L. Ubels ini tak jauh menyedihkan dari kisah korban lainnya. L.Ubels adalah korban salah tangkap dari pihak Jepang yang dieksekusi. Sasaran pihak Jepang sebenarnya adalah R. Ubels yang merupakan kakak dari L. Ubels. Naasnya, yang dieksekusi adalah adiknya ini.

Setidaknya ada 25.000 korban di Hindia Belanda yang tersebar di 7 ereveld. Tentu tiap korban memiliki kisahnya masing-masing. Beberapa yang diceritakan disini hanyalah sebagian kecilnya saja kisah para korban. Kenapa mereka meninggal dan bagaimana mereka meninggal.

Pada intinya adalah semuanya adalah korban. Ya. Korban kekejaman perang. Seperti yang saya sebut diawal bahwa tak ada yang diuntungkan dari sebuah peperangan. Mengapa mereka bisa berada di ereveld bukan semata-mata karena membela kubu A atau kubu B, namun jika kita mau memahami lebih dalam lagi, tidak sedikit yang menjadi korban karena alasan kondisi saat itu yang tidak memberi mereka pilihan lain, fitnah, pengorbanan dan alasan kemanusiaan lainnya.

Banyak pelajaran yang bisa kami ambil sore itu. Bukan hanya tahu tentang sejarah hingga muncul rasa empati saja, lebih dari itu adalah rasa syukur teramat dalam bahwa kita hidup di masa kini yang penuh kedamaian (walaupun dibelahan bumi lain perang masih terjadi) . PR besarnya adalah, sudahkah kita memaksimalkan hidup sebagai tanda syukur kita?

Obrolan kami bersama pak Dicky sore itu lebih banyak merenungi dan memaknai sejarah pahit yang pernah terjadi puluhan tahun silam hingga tak terasa senja makin tenggelam. Kami sudah melewati batas jam kunjungan Ereveld. Sebelum lupa, saya tutup kunjungan dengan menikmati senja sore dari atas pendopo Ereveld yang mengarah ke pantai Ancol. Entah kenapa, senja sore itu terasa lebih damai.

Senja dilihat dari pendopo Ereveld

Ereveld dilihat dari pendopo

Pengalaman berkunjung ke Museum Mandala Wangsit Siliwangi

Museum Mandala Wangsit Siliwangi yang terletak di Jalan Lembong, Bandung ini, mungkin tidak se-terkenal museum Geologi atau Museum Gedung Sate yang lagi hits di kalangan para pemburu pengalaman kognitif. Namun, jika ada diantara kalian yang ingin merasakan pengalaman bagaimana sebuah peristiwa bersejarah itu pernah terjadi di masa lalu lengkap dengan suasana tempat yang mendukung, kalian harus coba datang ke Museum satu ini.

Seperti kebanyakan museum yang gedungnya memiliki keterkaitan dengan tema dan peristiwa yang diangkat, pun dengan Museum Mandala Wangsit Siliwangi. Museum militer ini menempati sebuah gedung yang pernah digunakan sebagai markas Divisi Siliwangi yang pertama di kota Bandung (Staf Kwartier Territorium III Divisi Siliwangi) pada tahun 1949-1950.

Sebagai markas militer, pada tanggal 23 Januari 1950 gedung ini pernah menjadi sasaran serangan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) dibawah pimpinan Kapten Raymonf Wensterling. Dalam peristiwa tersebut gugur sebanyak 79 prajurit TNI / Siliwangi, termasuk diantaranya Mayor Adolp Lembong.

Begitu pentingnya peristiwa masa perjuangan 45 saat itu, hingga Kodam III Siliwangi menganggap perlu untuk mendirikan museum ini.

Kesan awal sesampainya saya di depan museum dalah SEPI. Jauh dari kata ramai. Apakah ini karena banyaknya informasi negatif yang menyebutkan bahwa museum ini angker? Atau karena lokasinya yang minim petunjuk arahlah yang menjadikan museum ini sepi? Entahlah, saya sendiri tidak mau percaya begitu saja sebelum masuk dan merasakannya sendiri.

Setelah menuliskan nama di buku pengunjung dan memberi uang sukarela, saya pun diarahkan ke arah pintu masuk museum yang berada di sebelah kiri dari ruang pendaftaran.

Pintu masuk pun masih tertutup rapat. Memangnya tidak ada pengunjung lain? Pikir saya. Begitu masuk, saya langsung disambut dengan koleksi khas museum perjuangan. Beberapa senjata tradisional seperti pisau, golok, keris tersusun rapi dalam etalase-etalase besar. Ternyata, ruangan yang pertama saya masuki adalah ruang ‘Pergerakan Nasional Indonesia’ yang dimulai dari tahun 1918 hingga 1944.

Koleksi senjata tradisional yang digunakan oleh pejuang

Senjata tajam yang digunakan rakyat Karawang & Purwakarta saat berjuang melawan penjajah

Selain koleksi beberapa senjata tradisional, terdapat pula beberapa lukisan perjuangan yang dilakukan oleh rakyat Jawa Barat hingga lukisan yang menggambarkan penderitaan rakyat akibat romusha.

Entah kenapa, lukisan disini terasa sangat ‘hidup’ sekali, seakan bisa bercerita apa yang terjadi saat itu. Baru masuk ke ruangan pertama saja perasaan saya tidak nyaman. Mungkin karena tidak ada pengunjung lainnya di museum ini. Saya mengutuki diri sendiri yang mungkin termakan cerita kurang sedap tentang museum ini.

Masuk ke ruangan berikutnya, saya pun diperlihatkan dengan koleksi yang berkaitan dengan detik-detik proklamasi kemerdekaan. Salah satu koleksi yang paling penting adalah meja dan kursi yang pernah dipakai oleh Soekarno dan Hatta saat peristiwa Rengasdengklok. Masih di ruangan kedua, terlihat ada bendera merah putih yang bisa saya sebut sedikit usang berada rapi didalam etalase dekat kursi dan meja. Ada pula koleksi pistol dan lukisan disana.

Meja dan kursi yang dipakai oleh Bung Karno & Bung Hatta saat peristiwa Rengasdengklok

Berjalan ke ruangan berikutnya bercerita tentang peristiwa ‘Palagan Bandung’ yang menceritakan rentetan peristiwa pasca kemerdekaan. Salah satunya adalah peristiwa Bandung Lautan Api.

Masih bercerita tentang peristiwa bersejarah dalam mempertahankan Kemerdekaan Indonesia dari rentang tahun 1947 hingga 1949 ada pula koleksi beberapa senjata laras panjang yang dibuat berjejer rapi.

Koleksi berupa senjata laras panjang

Terdapat pula lukisan yang menggambarkan peristiwa saat tentara Divisi Siliwangi melakukan Long March dari Jawa Barat ke Yogyakarta dalam usaha mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Lengkap dengan foto-foto monokrom dan koleksi senjata lainnya.

Di ruangan berikutnya, terdapat koleksi yang menggambarkan kekejaman pemberontak DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) yang bisa saya sebut titik klimaks rasa tidak nyaman saya berlama-lama di museum ini. Bagaimana tidak, foto-foto mayat, mayat yang telah membusuk bahkan tubuh yang terpenggal terpampang di ruangan ini. Tanpa membaca detail informasi tiap koleksinya, saya pun langsung keluar menuju ruang pendaftaran.

Melihat saya sudah keluar lagi, ibu petugas pendaftaran bertanya “Kok cuma bentar neng, sudah ke lantai 2 belum?” Sambil menyunggingkan senyum alakadarnya, karena rasanya menyusuri satu lantai saja, udah cape rasanya. Hahaha. “Emang ada koleksi museum di lantai 2 bu? Tadi saya lihat gelap di atas” jawab saya. “Ada neng, disana masih ada koleksi lainnya. Tentang penumpasan DI/TII dan G-30 S PKI. Ke atas aja, gak apa-apa kok” jawab si ibu dengan tenangnya.

Mungkin melihat raut muka saya yang lebih mirip anak yang dipanggil guru BK, si ibunya bilang “takut ya neng? Hari ini ga ada pengunjung yang berhasil menuntaskan kunjungannya sampai ke lantai 2. Kenapa pada ga mau ya. Ga apa-apa kok. Coba aja. Naik lewat tangga dari ruangan ini saja, nanti nyambung juga ke ruangan museumnya”

Oke. Sepertinya si ibu sudah sering bertemu dengan pengunjung seperti saya hingga paham sekali apa yang harus dikatakan. Akhirnya, saya pun menggangguk dan memutuskan untuk melanjutkan kunjungan ke lantai 2 dengan melewati tangga dari ruangan pendaftaran ini. Setidaknya, suara obrolan para petugas terdengar jelas dari atas, jadi lebih tenang rasanya. Pikir saya.

Sesampainya di lantai 2, ternyata suasananya tidak se-gelap dan se-pengap di lantai 1. Mungkin karena ruangannya tidak sebanyak di lantai 1. Namun, kondisi seperti itu bukan berarti membuat saya betah mengamati satu persatu koleksi disini juga sih. Haha. Terlebih saat melihat foto-foto monokrom dari penumpasan DI/TII dan G-30S PKI yang memperlihatkan foto-foto pahlawan revolusi dan jenazah mereka saat dikeluarkan dari lubang buaya.

Disini terdapat pula koleksi yang menggambarkan peristiwa APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) yang dipimpin oleh Kapten Raymond Westerling pada tanggal 23 Januari 1950 di Bandung. Foto-foto prajurit yang menjadi korban peristiwa ini dipasang pada etalase-etalase. Foto-foto pemberontakan Republik Maluku Selatan dan Pemberontakan afiliasi DI/TII turut melengkapi koleksi di lantai 2.

Masih di lantai 2, ditempel foto-foto para panglima Divisi Siliwangi dan lukisan Prabu Siliwangi beserta beberapa patung harimau. Oke. Saya rasa sudah cukup kunjungan saya kali ini. Jika petugas museum memberitahu saya bahwa ada lantai 3 atau ruangan tambahan lainnya dan menyuruh saya untuk melihat-lihat lagi, sepertinya saya akan menolak untuk saat ini. Mungkin lain kali jika saya berkunjung ramai-ramai saja. πŸ˜„Untunglah, tidak ada. Museum ini hanya ada 2 lantai. Dan, saya tuntaskan explore semuanya. Tuntas tapi sekilas. πŸ˜„

Jujur, explore museum saya kali ini seperti dikejar-kejar jadwal tutup museum, lihat judulnya, lanjut lagi ke koleksi berikutnya. Sekilas pula. Selain karena aturan museum yang tidak memperbolehkan mengambil gambar lukisan dan patung (Ngeles yang sungguh beralasan) saya pun terlalu sibuk menata rasa tak nyaman lama-lama didalam ruangan hingga bisa dibilang kunjungan kali ini tidak maksimal. Antara merasa bersalah karena tidak membaca teliti satu persatu koleksinya dan berpikir harusnya saya datang kesini ramai-ramai.

Selesai dari lantai 2 saya pun turun dan pamit pada para petugas museum. Selepas keluar dari gedung museum, ada beberapa kesan yang terbesit tentang museum Mandala Wangsit Siliwangi.

1. Museum yang tak perlu ‘usaha keras’ menciptakan rasa sedih, takut dan geram akan peristiwa perjuangan di masa lalu. Karena tempat dan koleksi yang dibuat ‘apa adanya’ dan terasa ‘ada apanya’ jadi perpaduan pas untuk menciptakan kesan tersebut.

2. Cita-cita pendiri museum agar generasi muda dapat mengenal sejarah perjuangan bangsanya sepertinya masih jauh jika kondisi museumnya masih seperti ini. Mengingat jaman sudah berbeda. Generasi milenial saat ini sudah dikenal sebagai generasi yang dalam kesehariannya sudah akrab dengan teknologi. Konsep tata pamer dan rancang desain museum agaknya harus direvitalisasi agar dapat menarik minat generasi saat ini untuk berkunjung ke Museum Mandala Wangsit Siliwangi.

3. Tema dan koleksi Museum Mandala Wangsit Siliwangi cukup banyak dan penting untuk diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat. Mengingat banyaknya kisah sporadis dan perjuangan yang dilakukan oleh bangsa kita saat berjuang melawan penjajah maupun peristiwa perjuangan pasca kemerdekaan yang mampu meningkatkan wawasan dan rasa nasionalisme generasi saat ini. Amat disayangkan jika hal tersebut tidak tersampaikan dengan maksimal, hanya karena kurangnya informasi atau pun image museum yang terkesan menyeramkan hingga membuat masyarakat enggan untuk berkunjung.

Itulah pengalaman dan kesan saya saat berkunjung ke Museum Mandala Wangsit Siliwangi. Harapannya, semoga Museum ini lebih baik lagi dan mampu bersaing dengan museum-museum baru yang makin mendapat perhatian masyarakat luas. 😊

Museum Mandala Wangsit Siliwangi

Alamat

Jl. Lembong No. 38, Braga, Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat 40111

No. Telepon

0224203393

Event #MAPMYDAY, cara beda memperingati Hari Disabilitas Internasional

Ada yang sedikit berbeda pada kegiatan ngaleut yang saya ikuti bulan Desember 2017 lalu. Mungkin, ini kali pertama saya mengikuti ngaleut sejarah bersama penyandang disabilitas netra dalam rangka memperingati hari disabilitas internasional yang jatuh pada tanggal 03 Desember lalu. Acara yang diadakan Komunitas Aleut kali ini bekerja sama dengan Komunitas Tune map, salah satu komunitas yang peduli terhadap hak mobilitas tuna netra di Indonesia. Aktivitas utama mereka adalah kampanye dan advokasi terkait trotoar yang aksesibel.

Gedung Wyata Guna yang berada di jalan Padjadjaran jadi titik kumpul ngaleut kali ini. Setelah selesai registrasi ulang, para peserta diarahkan untuk berkumpul di satu titik untuk mendapat briefing awal sebelum acara ngaleut dimulai. Kami dibagi beberapa kelompok bersama 2-3 orang penyandang disabilitas netra tiap kelompoknya.

Sambutan dari perwakilan penyandang disabilitas netra pada acara pembukaan

Briefing dan sesi perkenalan anggota kelompok

Trotoar. Ya. Sesuai dengan aktivitas utama dari tune map, saya diajak untuk memperhatikan hal yang biasanya luput dari pandangan saat berjalan-jalan di jalanan kota. Bukan hanya memperhatikan kondisi trotoarnya saja, namun kita diminta untuk membuat laporan atau temuan terkait kondisi trotoar yang tidak aksesibel bagi penyandang disabilitas netra dengan memanfaatkan aplikasi yang dibuat khusus oleh tune map dan bisa kita unduh lewat playstore.

Lewat ngaleut kali ini, bertambah pula rasa ingin tahu saya terkait aturan pembangunan trotoar yang baik sesuai aturan pemerintah itu seperti apa.

7 Syarat Trotoar yang Baik

Syarat trotoar yang baik harus terpenuhi agar manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal oleh pengguna jalan. Berdasarkan aturan dari Dinas Bina Marga terkait pembangunan trotoar, ada beberapa syarat yang harus terpenuhi, yaitu sebagai berikut.

1. Penempatan yang tepat

Panduan penempatan trotoar yang tepat antara lain,

  • Trotoar dibangun di kawasan yang mempunyai potensi menimbulkan pejalan kaki seperti sekolah, perumahan, pusat perkantoran, pusat perbelanjaan, terminal dan lain-lain.
  • Jalur pejalan kaki dapat direncanakan pada ruas jalan dengan volume pejalan kaki diatas 300 orang per 12 jam dan volume lalu lintas diatas 1000 kendaraan per 12 jam
  • Trotoar ditempatkan pada sisi luar bahu jalan. Jika telah terdapat jalur parkir, trotoar ditempatkan disisi luar jalur lalu lintas.
  • Trotoar dibuat sejajar dengan jalan, namun jika keadaan topografi tidak memungkinkan dapat dibuat tidak sejajar dengan jalan
  • Untuk area pemberhentian bus (halte), trotoar harus ditempatkan berdampingan atau sejajar dengan jalur bus dan dapat ditempatkan di depan maupun di belakang halte
  • Trotoar sedapat mungkin ditempatkan pada sisi dalam saluran drainase terbuka atau diatas saluran drainase yang tertutup.

2. Memiliki dimensi yang tepat

  • Trotoar harus memiliki ruang bebas yaitu area dimana tidak ada gangguan atau benda yang menghalangi. Tinggi bebas minimal 2.5 meter; kedalaman bebas minimal 1 meter dan kebebasan samping minimal 0.3 meter.
  • Jalur pejalan kaki disarankan memiliki lebar minimal 2 meter. Pada keadaan tertentu lebar trotoar dapat direncanakan sesuai dengan batasan lebar minimum sebagai berikut : Perumahan (1.5 m), Perkantoran (2.0 m), Industri (2.0 m), Sekolah (2.0 m), Terminal / Stop bus (2.0 m), Pertokoan/perbelanjaan (2.0 m), Jembatan / Terowongan (1.0 m)

Lebar minimum trotoar berdasarkan penggunaan lahan sekitarnya. (Sumber : pu.go.id)

3. Struktur dan kemiringan sesuai

  • Trotoar harus diperkeras dengan blok beton, beton, perkerasan aspal, atau plesteran.
  • Permukaan trotoar harus rata dan memiliki kemiringan melintang 2-4%. Sedangkan untuk kemiringan memanjang trotoar dapat disesuaikan dengan kemiringan memanjang jalan dan disarankan maksimal 10%. Kemiringan ini bertujuan agar tidak terjadi genangan air.

4. Memiliki tangga

Penggunaan tangga diperlukan pada jembatan penyeberangan, terowongan penyeberangan jalan dan trotoar yang memiliki kemiringan memanjang lebih dari 10%. Adanya tangga akan memudahkan pejalan kaki melewati area yang menanjak.

5. Ramah bagi difabel

Syarat trotoar yang baik selanjutnya adalah trotoar harus ramah bagi difabel. Penyandang difabel perlu diperhatikan kemudahannya dalam mengakses fasilitas umum termasuk trotoar. Agar ramah bagi difabel, trotoar harus dibangun dengan permukaan kasar dan keramik berulir atau keramik bertanda khusus (guiding block) sehingga memudahkan difabel dalam menggunakan trotoar.

6. Nyaman dan aman

Jalur pedestrian perlu dipasangi tiang pembatas agar kendaraan bermotor tidak bisa menerobos melewati trotoar. Selain itu, trotoar juga perlu ditanami pepohonan yang rindang sehingga menjadi lebih sejuk/teduh sehingga pejalan kaki tidak kepanasan. Pepohonan juga berfungsi sebagai penyerap polusi kendaraan bermotor sehingga udara menjadi lebih bersih.

Trotoar juga harus bebas dari kegiatan ekonomi. Seringkali trotoar dijadikan tempat berdagang oleh para pedagang. Padahal keberadaan pedagang tersebut dapat mengurangi kenyamanan para pejalan kaki.

Sedangkan untuk keamanan pejalan kaki saat malam hari, jalur pedestrian perlu dipasangi Lampu Penerang Jalan Utama (PJU). Keadaan trotoar yang trotoar dapat meminimalisir tindak kejahatan.

7. Menggunakan penutup lubang saluran utilitas / drainase

Syarat trotoar yang baik yang terakhir dan tidak kalah penting yaitu menggunakan penutup lubang saluran utilitas / drainase. Trotoar yang dibangun diatas saluran drainase biasanya memiliki lubang (manhole) untuk mengakses ke saluran drainase tersebut. Lubang tersebut harus ditutup agar para pejalan kaki tidak terjatuh atau terperosok ke dalam lubang saluran drainase. Untuk menutup lubang saluran drainase digunakan tutup manhole atau manhole cover.

Manhole cover berdesain kotak dapat dipilih untuk digunakan di area trotoar karena manhole cover tipe ini akan serasi dengan keramik yang digunakan di area trotoar yang juga berdesain kotak.

Bagaimana kondisi trotoar kita?

Dari sekian banyak persyaratan tersebut, nampaknya masih banyak trotoar di kota Bandung yang masih kurang memenuhi standar pembangunan trotoar yang baik terutama yang ramah bagi penyandang disabilitas. Salah satunya adalah trotoar di sepanjang jalan Padjadjaran hingga Wastukencana yang menjadi rute kami saat itu.

Cukup banyak keluhan yang dirasakan oleh para penyandang disabilitas netra seperti guiding block yang dibuat tidak seharusnya, banyak pohon, tiang-tiang bahkan ada beberapa kondisi trotoar yang kondisi guiding blocknya rusak atau bahkan jalurnya dipakai oleh pedagang. Tentu saja itu menjadi hal yang cukup berbahaya bagi saudara kita penyandang disabilitas netra yang mengandalkan guiding block sebagai pengarah mereka saat berjalan kaki.

img20171210090135-492312238.jpg

Guiding block yang terhalang oleh pohon

img20171210093202427105870.jpg

Guiding block yang beralih fungsi

Hal miris lainnya yang saya temukan adalah banyaknya trotoar yang rusak akibat pohon yang berdiri di area trotoar. Kebanyakan pohon yang ditanam adalah pohon yang tidak cocok ditanam di pinggir jalan seperti pohon trembesi karena akarnya rawan merusak badan jalan.

img20171210092959-357016111.jpg

Guiding block yang rusak akibat jenis pohon yang tidak cocok ditanam di area trotoar

Akar pohon yang merusak badan jalan termasuk guiding block

Memperhatikan setiap sudut kondisi trotoar lebih menarik lagi saat pemandu dari komunitas aleut menjelaskan beberapa bangunan bersejarah di sepanjang jalan yang kami lewati.

Beberapa bangunan bersejarah yang dilewati

Beberapa tempat bersejarah tersebut adalah Pabrik Kina yang berada di Jalan Padjadjaran yang pada jaman Belanda dikenal dengan nama ‘Bandoengsche Kinine Fbriek N.V yang didirikan tahun 1896. Pabrik ini dibangun untuk mengolah kulit pohon kina menjadi obat penyembuh penyakit malaria. Pembangunan pabrik kina ini pula yang menjadi tonggak sejarah Bandung di dunia Internasional.

Pabrik Kina

Selanjutnya kami pun menyusuri jalan Wastukencana dan berhenti di depan sebuah rumah pribadi yang memiliki ciri khas tulisan ‘Wastukantjana’ pada fasad depan bangunannya. Rumah ini diketahui sebagai ex-hotel Van donk yang didirikan tahun 1910. Konon hotel ini merupakan hotel prostitusi yang terkenal seantero Hindia-Belanda.

Rumah Wastukantjana ex hotel Van donk

Beranjak dari rumah Wastukantjana, bangunan berikutnya yang kami susuri adalah gedung ex-KONI yang dulunya diperuntukan untuk sekolah freemason. Sayangnya, gedungnya tertutup seng penutup karena masih dalam tahap renovasi sehingga kami tidak bisa melihat dengan jelas bangunannya.

Dari sana, kami pun menyeberang ke arah mesjid Al-Ukhuwah yang berdiri di atas lahan markas organisasi Freemason di Bandung atau dikenal dengan gedung Lodge Sint Jan sebelum dihancurkan dan menjadi mesjid yang selalu ramai seperti sekarang.

Berada di samping mesjid Al-ukhuwah, kami pun sempat mampir ke sebuah tempat makan legendaris di Bandung. Yaitu Bandoengsche Melk Centrale (BMC) yang sudah berdiri sejak tahun 1928.

Dari BMC, kami pun berjalan lagi menuju taman balaikota yang menjadi titik akhir acara ngaleut kali ini. Sesi sharing, pengumuman jumlah laporan temuan terkait kondisi trotoar yang ditemukan peserta dan foto bersama jadi acara penutup hari ini.

Foto bersama

Ngaleut kali ini, untuk kesekian kalinya memberi saya pemahaman baru. Bisa saya sebut ngaleut kali ini lebih istimewa. Kenapa? Karena bukan hanya sisi kognitif saja yang bertambah, namun dengan ngaleut bersama saudara-saudara kita penyandang disabilitas netra, rasa peka terhadap lingkungan dan kepedulian terhadap sesama pun turut bertambah pula.

Harapannya satu. Semoga kota Bandung dan sekitarnya punya trotoar yang baik, terutama trotoar yang ramah bagi penyandang disabilitas!

Referensi :

“7 Syarat Trotoar yang Baik & Contohnya.” 17 Februari 2017.Web.14 Maret 2018.<https://maria.co.id/syarat-trotoar-yang-baik-dan-contohnya/&gt;

Ingat susu, ingat Bandoengsche Melk Centrale!

Masih seputar tempat kuliner legendaris di kota Bandung. Kali ini tempat yang tak kalah menarik untuk dibahas adalah sebuah tempat makan bersejarah di kawasan jalan Wastukencana, yaitu Bandoengsche Melk Centrale (BMC) . Kalau boleh saya sebut, tempat ini punya nilai historis yang lebih dibandingkan tempat makan legendaris lainnya. Kenapa? Selain produksi makanannya yang sudah terkenal sejak jaman dulu, dari segi tempat pun sangatlah bernilai historis. Bangunan yang dipakai BMC saat ini hampir tidak mengalami perubahan bentuk sejak pertama bangunan ini berdiri pada tahun 1928. Dan kini, bangunannya tercatat sebagai salah satu bangunan cagar budaya yang dilindungi di kota Bandung.

Seperti tempat makan yang menyediakan menu ontbijt (sarapan) bagi orang Eropa saat itu, yang salah satunya adalah kebutuhan susu, BMC menjadi perusahaan yang paling berpengaruh. Produksi susu yang dihasilkan di BMC terkenal akan kesegarannya. Itulah, yang menjadikan BMC terkenal di jamannya. Hingga pernah, karena kualitasnya, seorang Direktur BMC bahkan pernah menulis jargon seperti ini : Vergeet U niet, dat er in geheel Nederlandsch Oost-Indie slechst een Melk centrale is, en dat is de Bandoengsche Melk Centrale! (Anda jangan lupa, bahwa di seantero Nusantara ini cuma ada satu Pusat Pengolahan Susu, dan itu adalah Bandoengsche Melk Centrale!”)

Bangunan yang masih bertahan bentuknya dari tahun 1928

SEJARAH BANDOENGSCHE MELK CENTRALE

BMC pada zaman Belanda

BMC tahun 1933 Foto : Pinterest.com

Pembangunan BMC berawal dari adanya peningkatan produksi susu dari peternakan-peternakan sapi perah di daerah Bandung dan sekitarnya yang menimbulkan permasalahan bagi peternak sapi perah dan pengusaha susu. Susu tidak dapat bertahan lama karena rentan terhadap bakteri. Namun, para peternak sapi perah dan pengusaha susu tidak memiliki peralatan yang memadai untuk mengawetkan susu. Hal itu mendorong timbulnya gagasan diantara peternak sapi perah dan pengusaha susu untuk mendirikan Melk Centrale (Pusat Pengolahan Susu)

Walaupun pembangunan Melk centrale ini sempat menuai pro dan kontra dikalangan para peternak dan produsen susu berskala besar dan kecil, karena khawatir akan merugikan pihak peternak dan produsen susu kecil, pada akhirnya semuanya dapat terselesaikan dengan baik. Lalu, terbentuklah sebuah Pusat Pengolahan Susu yang berbentuk koperasi di Kota Bandung yang dinamai Bandoengsche Melk Centrale.

BMC berdiri pada akhir tahun 1928, yang beranggotakan para peternak sapi perah dan pengusaha susu di Bandung dan sekitarnya. Sejak berdiri, BMC adalah satu-satunya koperasi pusat pengolahan susu di Hindia Belanda dengan peralatan pabrik pengolahan susu yang berteknologi tinggi dan termodern pada zamannya di Hindia Belanda, karena sudah melakukan pengolahan susu dengan sistem pasteurisasi.

Lahan di Kebon Sirihweg No.58 yang kemudian menjadi Jl. Aceh No. 30 dipilih sebagai lokasi bangunan BMC karena letaknya strategis. Kebon Sirih weg bermuara di dua jalan utama (Logeweg, sekarang Jl. Wastukencana dan Tjitjendoweg, sekarang Jl. Cicendo) sehingga memudahkan tahap pengangkutan susu dari peternakan ke BMC dan tahap pengantaran susu ke para pelanggan susu, baik yang bermukim di kawasan Bandung utara maupun selatan. Pemilihan lokasi juga didasarkan pada kedekatan letak dan kemudahan angkutan ke lapangan terbang andir dan stasiun kereta api. Lahan yang dipergunakan untuk bangunan BMC adalah milik Louis Hirschland dan van Zijl, pemilik peternakan Generaal de wet Hoeve di Cisarua.

Bangunan BMC selesai dibangun pada tahun 1929 dengan gaya arsitektur Art Deco Geometric. Bagian depan bangunan difungsikan sebagai kedai susu. Instalasi pengolahan susu dan kantor terletak di bangunan memanjang di belakang kedai susu.

BMC dikelola oleh beberapa orang Belanda dan dipimpin oleh seorang direktur. Instalasi pengolahan susu dilayani oleh pekerja pribumi di bawah pengawasan orang Belanda. Kebersihan amat sangat diperhatikan. Instalasi pengolahan susu diawasi oleh Veterinair-Hygienischen en Burgerlijken Volksgezondheids Dienst (Dinas Kesehatan dan Kebersihan Hewan dan Kesehatan Masyarakat) agar kualitasnya tetap terjaga.

Dalam urusan pendistribusian, BMC menerima dua kali kiriman susu tiap hari dari para peternak sapi. Susu diangkut didalam bejana antikarat (Stainless steel). Ukuran isi bejana bervariasi antara 10 liter hingga 50 liter. Bejana itu ditutup rapat dan disegel. Susu dari setiap peternakan diambil sampelnya dan diberi nomor kode sesuai nomor setiap peternakan. Kemudian, sampel tersebut dianalisis di laboratorium untuk ditelisik sifat dan kadar susu untuk kemudian akan dipasteurisasi jika memenuhi syarat. Susu yang telah dipasteurisasi akan dikirimkan ke para konsumen dan diperdagangkan oleh pedagang eceran di kota Bandung dan ke luar kota Bandung.

Produk BMC antara lain:

Susu murni pasteurisasi, susu murni tanpa lemak sebagai produk samping proses pembuatan mentega, susu coklat, mentega (room botter), keju yang dibuat dari lemak susu, eskrim, susu cair untuk bayi dan susu tepung untuk bayi.

Semua produk BMC diperdagangkan di kedai susu yang menempati bagian depan gedung BMC. Kedai itu sering dijadikan tempat pertemuan dan bersantai orang-orang Belanda, sambil menikmati produk BMC. Selain diperdagangkan di BMC langsung, pengiriman susu juga dilakukan oleh seorang pengantar dengan menggunakan sepeda yang dilengkapi tas besar dari kain terpal atau goni di bagian belakang sepeda. Tas besar tersebut memilki kantung-kantung kecil untuk penempatan botol-botol susu sehingga botol-botol itu tidak berbenturan. Pengantar meletakkan botol susu di dekat pintu masuk rumah konsumen, sekalian mengambil botol kosong bekas kiriman susu sebelumnya.

BMC pada masa pendudukan Jepang

Pada masa pendudukan tentara Jepang (1942-1945), BMC diambil alih dan dikelola oleh Bandung Tiku Seimubu (Pemerintahan Militer Kota Bandung) dan nama BMC diganti menjadi Koperasi Soesoe Bandoeng. Pada masa pendudukan Jepang, koperasi tersebut tidak beroperasi secara maksimal akibat banyaknya pengusaha dan pegawai berkebangsaan Belanda dijembloskan kedalam kamp interniran.

BMC pada masa perang kemerdekaan

Pada masa perang kemerdekaan, nama Koperasi Soesoe Bandoeng diubah kembali menjadi Bandoengsche Melk Centrale karena dikelola kembali oleh orang Belanda. BMC dikelola oleh Pemerintahan Sipil Hindia Belanda, yaitu NICA dengan AMACAB pada pasukan sekutu. Namun, BMC tidak berproduksi secara maksimal karena pasokan susu tidak memadai.

BMC setelah perang kemerdekaan

Setelah perang kemerdekaan berakhir (1950), BMC dikelola kembali oleh pihak koperasi. Pengelolaan BMC dilakukan oleh sejumlah orang Belanda pegawai BMC yang tidak kembali ke negeri Belanda dan para pekerja pribumi yang telah bekerja di BMC sejak masa Hindia Belanda. BMC mencoba berproduksi kembali untuk melayani para konsumen dengan jumlah produksi terbatas mengingat jumlah sapi perah yang tersisa di peternakan sapi perah di Bandung dan sekitarnya masih sedikit.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 23 tahun 1958 tentang pengambilalihan modal perusahaan-perusahaan dan badan usaha milik Belanda dan UU No. 86 Tahun 1958 tentang Nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda, BMC dinasionalisasi oleh pemerintah. Penguasan Perang Daerah Jawa Barat mengambilalih BMC, yaitu oleh Komando Daerah Militer (Kodam) III Siliwangi dan dikelola oleh Kesdam (Bagian Kesehatan Daerah Komando Militer III Siliwangi.

Peternakan sapi perah diaktifkan kembali. Dokter hewan disediakan untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan sapi perah. Pegawai BMC yang kembali dari pengungsian dipekerjakan lagi, sehingga BMC dan peternakan sapi perah dapat beroperasi dan beproduksi kembali dengan jumlah yang sama seperti pada masa Hindia Belanda.

Tahun 1961, Penguasa Perang Daerah Jawa Barat menyerahkan BMC kepada Pemerintah Daerah Tk. I Jawa Barat, yaitu kepada Departemen Peternakan Jawa Barat. Nama BMC diubah menjadi Pusat Susu Bandung (PSB). Bangunan PSB direnovasi tahun 1999.

Tahun 2002, status Perusahaan Daerah Industri Provinsi Djawa Barat berubah dan namanya menjadi PT. Agronesia. Nama PSB dikembalikan menjadi Bandoengsche Melk Centrale (BMC) hingga saat ini.

BANDOENGSCHE MELK CENTRALE MASA KINI

Jika kita berkunjung ke BMC, kesan jadul masih terasa. Terlihat beberapa foto bangunan lama yang dipasang di dinding ruangan. Gaya arsitektur bagian dalam dan luar pun tidak banyak mengalami perubahan. Yang lebih spesialnya adalah, menu susu yang jadi andalan BMC. Dan, memang untuk urusan satu ini BMC juaranya! Selain minuman susu dengan beragam varian rasa, tersedia juga menu makanan lainnya disini. Kue-kue olahan susunya pun tak kalah enak dengan menu susu nya sendiri. Bikin ketagihan!

Bagian luar bangunan

Beberapa foto lama yang dipajang di dinding ruangan

Suasana bagian dalam bangunan yang tidak banyak mengalami perubahan

Bagian dalam bangunan

Masih bagian dalam bangunan

Untuk urusan harga, BMC mematok harga dengan kisaran Rp. 5.000 – Rp. 40.000 untuk minuman, dan Rp. 16.000 – Rp. 78.000. Karena soal rasa itu selera ya, menurut saya rasa makanan disini biasa saja. Tapi, untuk susu dan kue olahan susunya, recommended pisan!

Beberapa kue olahan susu

Yogurt πŸ˜‹

Drinks and Dessert menu

Food menu

Informasi lainnya adalah, entah karena BMC tempat legendaris jadi saya perhatikan, kebanyakan pengunjungnya adalah ibu-ibu dan bapak-bapak. Begitu pun dengan hiburan band yang disediakan pihak restoran, jadul abis. Mulai dari lagu maupun personil bandnya yang kebanyakan band jaman old. Haha.

Pengunjung yang diajak bernyanyi bersama band dari BMC

Bagi kalian yang suka susu sambil menikmati suasana ala ala golden memories, mungkin BMC bisa dijadikan pertimbangan saat berkunjung ke kota Bandung. πŸ˜€

Bandoengsche Melk Centrale (BMC)

Alamat :

Jalan Aceh No.41, Babakan Ciamis, Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat 40117

Telepon :

(022) 4204595

Jam buka :

08.00 – 23.00 WIB

Referensi :

Katam, Sudarsono. 2012. Produsen Ontbitjt Walanda Bandoeng. Bandung : Khazanah Bahari

Belum ke Bandung kalo belum mampir ke toko roti Sidodadi

Jika ditanya toko roti yang enak di Bandung dimana? Pasti orang Bandung sepakat menjawab toko roti Sidodadi adalah salah satunya. Oke. Sebenarnya saya juga salah satu yang penasaran dengan roti satu ini.

Menemukan toko roti Sidodadi sebenarnya tidak terlalu sulit, karena lokasinya di pusat kota Bandung, tepatnya di Jalan ABC no.255 yang dikenal sebagai kawasan perdagangan. Biasanya, jika orang-orang main ke pasar baru pasti akan mampir juga ke jalan ABC. Namun, berhubung tokonya tidak terlalu besar, pun dengan plang tokonya juga kalah besar dibanding toko-toko sekitarnya, kita harus lebih jeli agar tidak terlewat.

Toko roti ini salah satu toko yang legendaris di Bandung, karena sudah ada sejak tahun 1954.

Kalau ditanya, jam berapa kira-kira waktu yang pas untuk mampir ke toko roti Sidodadi? datanglah pukul 10 atau 11 siang. Jika perlu sebelum jam 10 kita sudah nangkring di depan tokonya. Bukan apa-apa, makin siang makin ramai pembeli. Saya datang pukul 11.00 dan antrinya sudah sampai keluar tokooo.. Kalo datangnya sore, udah deh keabisan rotinya. Katanya sih, gitu.

Ditengah hati berusaha dengan penuh kesabaran menanti giliran, mata saya tertuju pada seorang bapak yang berdiri di atas kursi dekat pintu masuk sambil teriak-teriak ke arah pengunjung didalam. Awalnya saya pikir itu salah satu pengunjung yang sudah habis kesabaran sampai naik-naik ke atas kursi seperti itu. Eh ternyata, dugaan saya salah. Bapak itu adalah pegawai toko yang sengaja berdiri untuk mengatur antrian para pengunjung di dalam agar tetap tertib dalam berbelanja. Unik. Hahaha..

Dipantatin juga ga masalah, yang penting dapet roti sidodadi πŸ˜‚

Syukurlah saat itu tidak ada pengunjung yang memborong roti untuk acara syukuran khitanan atau ulang tahun, jadinya waktu mengantri pun tidak begitu lama. Masuk kedalam toko, saya langsung disuguhkan macam-macam roti dalam etalase kaca lengkap dengan tulisan beragam rasa roti yang ditulis ‘seadanya’ di kaca etalase. (jangan membayangkan tulisannya dibuat seperti di mall-mall ya)

foto : infobdg.com

Kue-kue pasar lainnya yang dijual di toko roti sidodadi

Ternyata rasanya sangat bervariasi! Total, ada 30 varian rasa, dengan harga berkisar antara Rp. 3.700 – Rp. 4.500 untuk roti satuan dan Rp. 11.000 – Rp. 19.000 untuk roti ukuran besar. Saya sampai pusing mau pilih rasa apa. Sedangkan waktu untuk memilih tidak lama karena antrian masih panjang di belakang saya. Berlama-lama memilih, bisa-bisa kena semprot pengunjung dibelakang. Sungguh waktu sangatlah berarti disini. Wkwk.

Setelah saya pilih secara random, akhirnya pilihan jatuh pada roti rasa jagung, coklat keju, kayu manis, ayam dan pisang coklat. Dan, saya sadar bahwa ini mah kebanyakan euy. Mungkin ini yang namanya efek ‘rurusuhan dan lapar mata’πŸ˜‚

Selesai menyebutkan pilihan roti yang saya inginkan, pegawai toko dibalik etalase dengan cekatan membungkus semua roti kedalam sebuah plastik khas Sidodadi. Apa khasnya? Plastiknya jadul abis. Ada tulisan ‘buanglah sampah pada tempatnya’ dan iklan layanan masyarakat Keluarga Berencana. Sungguh berfaedah sekali plastiknya. πŸ˜† Selesai dibungkus, pegawai toko akan menyuruh kita untuk membayar ke kasir tak jauh dari etalase tadi.

Keunikan lain yang saya temukan di toko roti ini. Yang jaga kasir seorang cici cici cantik yang saya perkirakan adalah pemilik toko ini. Nah, uniknya dimana? Uniknya adalah, yang jaga kasir sangatlah multi tasking. Dia bisa melakukan tugasnya sebagai kasir sambil melakukan aktivitas lain. Saat saya datang, cici cicinya lagi merajut sama main handphone. Si cici tinggal mendengarkan penjaga toko menyebutkan jumlah uang yang harus dibayar pembeli, kita serahkan uangnya, ia terima, lanjut merajut lagi.. Tanpa melihat muka dan bicara apa-apa sama pembeli. (atau cuma sama saya aja itu si cici begitu ya?) 😢

Oke. Kita lupakan si cici yang multi tasking itu. Lanjut soal rasa. Kenapa roti Sidodadi enak banget? Sebenarnya, bukan hanya enak sih. Namun, tekstur rotinya yang lembut dan padat serta isi roti yang dibuat ‘ga pelit’ jadi kuncinya. Untuk semua roti yang saya beli, saya kasih nilai 9/10. Enaakkk.. Dan, hal positif lainnya dari toko roti ini adalah, rotinya tidak memakai bahan pengawet. Jadi lebih sehat untuk dikonsumsi, tentunya.

Toko roti Sidodadi kembali menunjukkan pada saya bahwa jangan menilai sesuatu dari luarnya saja. Tempat yang kecil dan sederhana ternyata menyimpan rasa makanan yang tak jarang kualitas rasanya diluar ekspektasi kita.

Hayuk atuh kita cobain roti Sidodadi. 😁

Roti Sidodadi

Alamat :

Jl. Otto Iskandar Dinata, No.255, Karang anyar, Astana Anyar, Kota Bandung, Jawa Barat 40241

Telepon :

(022) 4203361

Jam buka :

10.00 – 20.00 WIB

Mencicipi eskrim sekaligus menyelami sejarah Rasa Bakery & Cafe legendaris di Bandung

Seperti kota-kota besar lain yang pernah disinggahi oleh orang Eropa dalam waktu lama, kebiasaan orang Eropa pun menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan kota Bandung. Salah satunya adalah kuliner. Kebanyakan kuliner khas Eropa di Bandung, berawal dari kebutuhan orang Eropa akan Ontbijt atau menu sarapan pada dekade 1920 an saat banyaknya orang Eropa yang tinggal atau singgah di Bandung.

Karena kebutuhan itulah, banyak bermunculan toko atau restoran saat itu yang menyediakan menu ontbijt di Bandung. Seperti Maison bogerijen, Valkanet, Firma C.H. Hazes dan lain lain.

Dari sekian toko atau restoran lama tersebut, ada beberapa yang masih bertahan hingga kini. Tentu, dengan nama yang berbeda. Bahkan, pamornya tak kalah dengan cafe-cafe kekinian yang marak berdiri. Sebut saja Braga Permai dan Sumber hidangan.

Salah satu yang masih bertahan selain yang saya sebutkan diatas adalah Rasa Bakery & Cafe yang terletak di Jl. Tamblong. Setelah beberapa kali hanya menengok restoran ini dari luar saja, akhirnya beberapa waktu lalu rasa penasaran saya pun terbayarkan. Agak impulsif sebenarnya. Lagi jalan kaki hendak ke alun-alun eh lewatin restoran ini, tiba-tiba kaki saya malah masuk kedalamnya (alasan sih) πŸ˜„

Datang ke suatu tempat, sepertinya kurang rasanya jika tidak mencari tahu sejarah atau asal-usul tempatnya.

Sejarah Rasa Bakery & Cafe

Jauh sebelum tahun 1960-an, sebelum rumah makan ini berubah nama menjadi PT. Rasa, tepatnya tahun 1910-an, di TamblongWeg (Jl. Tamblong) berdiri sebuah firma yang bernama Firma C.H. Hazes. Firma C.H Hazes ini didirikan oleh C.H. Hazes seorang pengusaha roti terkenal dari kota Malang. Awalnya, Hazes mengkhususkan diri dalam pembuatan permen dan gula-gula. Hazes merupakan pabrik permen dan gula-gula pertama yang menggunakan mesin-mesin produksi bertenaga listrik di Hindia Belanda.

Permen dan bon-bon buatan Hazes didistribusikan ke seluruh Hindia Belanda dan produknya sampai di ekspor ke beberapa negara.

Setelah sukses dalam usaha permen dan bon-bon, C.H. Hazes melirik usaha baru yaitu menu ontbijt yaitu roti. Roti yang dibuat berupa roti tawar, roti susu, roti manis, dan roti isi. Langkah pengembangan usaha berikutnya ialah pembuatan berbagai jenis cokelat (termasuk Muisjes dan Hagelslag) mengingat produk Hazes selama itu dipergunakan sebagai bahan pelengkap pabrik cokelat di Belanda.

Hazes menggunakan beberapa ukuran pemanggang roti dan kue berbahan bakar gas kota produksi pabrik gas Nedherlandsch Indische. Kualitas produk Hazes entah permen, bon-bon, kue atau pun roti dikenal sangat prima sehingga Hazes ditetapkan sebagai pemasok untuk Gubernul Jenderal Hindia Belanda.

Pada tahun 1960-an, nama Hazes diubah menjadi PT. Rasa, dan bangunannya juga mengalami perubahan bentuk. Bangunan toko itu kembali diubah menjadi bertingkat pada tahun 1990-an. Sekarang, nama PT. Rasa berubah menjadi Rasa Bakery & Cafe.

Mencicipi Eskrim paling legendaris di Rasa bakery & Cafe

Kembali ke Rasa Bakery & Cafe saat ini, Saya pun mencoba menu eskrim yang paling legendaris disini. Yaitu Coco Royal Ice cream. Penyajiannya unik. 3 rasa eskrim, vanilla, coklat dan strawberry serta beberapa buah dan kue disajikan kedalam sebuah batok kelapa muda segar dengan air kelapa yang disajikan secara terpisah. Rasanya enak dan segar, cocok dimakan saat matahari sedang terik-teriknya.

Bagi pengunjung yang ingin makan makanan yang lebih berat untuk makan siang, disini pun tersedia beragam menu khas Indonesia. Harganya bervariasi mulai dari Rp. 25.000 – Rp. 35.000 untuk es krim, Rp. 5.000 – Rp. 35.000 untuk minuman. Dan Rp. 27.500 – Rp. 60.000 untuk makanan lainnya.

Berikut saya tampilkan menu beserta harganya sebagai pertimbangan saat berkunjung kesini.

Selain makanannya yang legendaris, urusan interior ruangan pun, kesan jadul masih terasa. Terlihat dari kursi dan meja yang dipakai ataupun bentuk bangunan yang masih terjaga arsitektur gaya lamanya. Walaupun ada beberapa bagian yang diberikan sentuhan modern disana-sini.

Itulah cerita saya saat berkunjung ke Rasa Bakery & Cafe.

Cocok untuk kalian yang suka kuliner dan sejarah untuk berkunjung ke Cafe ini. πŸ˜€

Rasa Bakery & Cafe

Alamat : Jl. Tamblong No. 15, Braga, Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat 40111

Telepon : (022) 4205330

Jam Buka : 08.00 – 21.30 WIB

Referensi :

Katam, Sudarsono. 2012. Produsen Ontbitjt Walanda Bandoeng. Bandung : Khazanah Bahari

Pengalaman menginap di Hotel Trio Solo

Menulis review tentang hotel sebenarnya tidak pernah masuk kedalam list up tulisan yang ingin saya bagi. Mungkin karena kali ini hotelnya menarik dan unik hingga saya merasa perlu berbagi pengalaman saat menginap di salah satu hotel di kota Solo akhir tahun lalu.

Hotel Trio. Itulah nama hotel yang saya sebut menarik dan unik. Saya sebut seperti itu, karena bangunan hotelnya terbilang tua. Sangat tua bahkan. Bayangkan, hotel yang ukurannya tidak terlalu besar ini sudah berdiri sejak tahun 1932. Wow!

Sebenarnya sih, saya paling menghindari menginap di penginapan yang bernuansa jadul atau bangunannya lama (walaupun saya suka bangunan lama), ini kaitannya dengan pengalaman saya dulu (tidak akan saya ceritakan disini) haha.. Tapi, berhubung liburan akhir tahun kemarin itu hotel disekitar pusat kota Solo sudah banyak yang fully booked karena mendadak cari penginapannya, akhirnya pilihan saya pun jatuh pada hotel Trio ini. Dengan mengesampingkan kejadulan bangunannya, saat itu yang ada dipikiran saya adalah yang penting harganya pas dikantong, review nya bagus dan yang terpenting adalah harus ada di pusat kota Solo. Akhirnya, fix! Hotel Trio saya pilih.

Sesampainya di hotel, saya pikir hanya bangunannya saja yang unik, selebihnya tidak. Namun, ternyata ada hal lain yang menarik. Mayoritas pegawai hotel, sejauh mata memandang adalah bapak-bapak dan ibu-ibu yang saya perkirakan berusia 50 tahun-an. Bahkan, ada yang lebih tua lagi. Entah apa pertimbangannya. Tidak sedikit pula tamu yang datang ke hotel ini pun (entah kebetulan atau tidak) adalah oma dan opa. Jadilah, saya merasa paling muda di hotel ini. πŸ˜‚

Karena kamar yang saya pilih adalah kamar standar, saya pun mendapat kamar yang berada di bangunan belakang. Bukan bangunan utama yang berusia hampir 1 abad. Sempat berbincang dengan bapak yang mengantarkan saya ke kamar, ternyata bangunan belakang ini didirikan tahun 1975, jauh lebih baru ketimbang bangunan utama.

Sejak masuk ke hotel ini, tiap sudut ruangannya menarik perhatian saya dan membuat rasa penasaran terhadap sejarah bangunan ini makin besar. Saya pun mencari beberapa informasi terkait hotel ini.

Hotel yang pernah menjadi rumah tinggal seorang saudagar batik dari Laweyan

Berdasarkan pencarian saya lewat google, rumah ini awalnya milik Tjokro Soemarto, saudagar batik di Laweyan pada awal 1900-an, kemudian disewa Tjoa Boen King. Ketika ada saudara Boen King, pengelola Hotel Trio di Yogyakarta, mencari tempat untuk penginapan dengan nama sama, rumah ini jadi pilihan.

Rumah sewaan tersebut kemudian dibeli putra Boen King, Djoenadi Tjokrohandojo, pada 1970-an, saat bisnis penginapan semakin berkembang. Sekarang, penanggung jawab hotel adalah putri Djoenadi, Indriati Tjokrohandojo, 60-an tahun.

Dalam artikel Dhian Lestari Hastuti β€œStruktur dan Fungsi Desain Interior Rumah Peranakan Tionghoa di Surakarta pada Awal Abad ke-20” (2012) di jurnal desain interior Pendhapa, Hotel Trio semula terdiri dari dua bangunan, yakni bagian depan sebagai penginapan dan bagian belakang untuk rumah tinggal. Antara penginapan dan rumah tinggal dipisahkan courtyard.

Arsitektur jawa yang kental pada tiap sudut hotel

Kental pengaruh arsitektur rumah tradisional Jawa dengan pola peletakan pintu tiga memusat, ornamen dan struktur Eropa dengan fasad didominasi kolom-kolom besi berukir ala Korinthia, serta karakter rumah tradisional Cina dengan courtyard di depan dan tengah rumah.

Lantai di bangunan bawah adalah tegel bermotif flora, mulai dari beranda depan hingga beranda belakang, sedangkan di lantai 2 berlantai kayu.

Lorong di lantai satu

Di bangunan utama ada delapan kamar, yakni empat di lantai 1 dan empat di lantai 2. Kamar-kamarnya ditandai dengan huruf A, B, C, dan seterusnya. Setiap kamar, masing-masing berukuran 4Γ—5 meter, dengan jendela besar menghadap ke luar. Di depan setiap kamar diletakkan meja kayu dengan permukaan marmer.

Kamar tidur di bangunan utama

Kusen dan daun pintu dengan tinggi 3,5 meter mendapat pengaruh gaya Eropa. Pintu-pintu utama memiliki dua pasang daun pintu, yakni sepasang daun pintu kayu yang membuka keluar dan sepasang daun pintu kaca membuka ke dalam.

Lorong di lantai dua

Pembatas lobi dan kamar, serta kamar dan teras belakang, adalah kolom Tuscan dengan lengkungan di bagian tengah.

Warna yang mendominasi daun pintu dan jendela adalah kuning muda dengan aksen hijau yang merupakan pengaruh Keraton Mangkunegaran. Meski demikian, menurut budaya Tionghoa, hijau yang merupakan simbol unsur kayu, melambangkan panjang umur, pertumbuhan, dan keabadian. Sedangkan kuning, simbol unsur tanah, melambangkan kekuatan dan kekuasaan.

Tangganya memiliki railing kayu serta balustrade dari besi dan kayu. Dari bawah hingga bordes menggunakan balustrade kayu, sedangkan dari bordes ke lantai 2 adalah balustrade asli dari besi tuang.

Tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua

Di lantai 2, kita bisa ke balkon depan untuk melihat jalan raya. Balkon depan sekarang sedang dalam tahap renovasi. Di atap balkon terdapat hiasan (kuluk) patung burung berkepala singa.

Balkon yang masih dalam tahap renovasi

Hingga kini, bentuk bangunan lama tetap dipertahankan sesuai aslinya, kecuali dinding yang semula dilapisi bata yang dihaluskan dan dicampur pasir dan kapur diganti dengan dinding semen akibat rembes.

Rumah tinggal di bagian belakang sudah berganti jadi deretan kamar dua lantai yang saling berhadapan, mengapit courtyard. Ukuran kamarnya lebih kecil dibanding kamar di bangunan lama.

Rumah tinggal bagian belakang yang sudah berubah menjadi deretan kamar berlantai dua

Makanan & Pelayanan hotel

Karena saya hanya menginap satu malam saja di hotel Trio, secara garis besar pelayanannya tidak ada masalah. Hotelnya bersih dan nyaman. Tapi, seperti sebagian besar review negatif yang saya baca tentang hotel ini yaitu makanannya, ternyata memang makanan yang disediakan pihak hotel kurang enak dan kurang bervariasi menurut saya. Padahal suasana hotel dan lainnya sudah cukup baik.

Untunglah bangunan hotel yang antik menutupi kekurangan tersebut dan membuat saya tidak menyesal menginap di hotel ini. Walaupun bangunan lama, tapi jauh dari kesan menyeramkan.

Bagi yang ingin merasakan menginap di hotel dengan suasana heritage, hotel ini saya rasa cocok untuk dijadikan pertimbangan menginap saat berkunjung ke kota Solo. Selain karena lokasinya yang sangat strategis karena dekat kawasan pecinan dan pusat kota Solo yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki.

Hotel Trio Solo

Alamat :

Jl. Jendral Urip Sumoharjo No. 25, Kepatihan Wetan, Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57129

Telepon : 0271632847

Referensi :

Galikano,Silvia : “Langgam Ekletik Hotel Trio Solo”. 17 Desember 2016. http://silviagalikano.com/2016/12/17/hotel-trio-solo.html

Bincang sore bersama Pak Sudarsono Katam, penulis buku Album Bandoeng Tempo DoeloeΒ 

Seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Peribahasa itu sepertinya tepat adanya disematkan untuk sosok satu ini. Setidaknya itulah kesan saya saat kali pertama bertemu pak Sudarsono Katam di kediamannya di Jl. Tanjung No.1 Bandung beberapa waktu lalu.

Bagi pecinta buku tentang sejarah Bandung, nama beliau sudah tidak asing lagi. Pernah mendengar buku Album Bandoeng Tempo doeloe? Atau buku ‘Dari Villa Isola ke Bumi Siliwangi?’ Beliaulah yang menulis buku-buku tersebut. Termasuk belasan buku tentang Bandung lainnya.

Banyak hal yang kami bicarakan sore itu. Mulai dari perkembangan komunitas-komunitas sejarah di Bandung, perkembangan dunia literasi di Bandung, terutama buku-buku lama yang kini makin banyak diminati oleh masyarakat.

Yang paling menarik tentu saja saat beliau bercerita kenapa ia bisa ‘terjerumus’ menjadi seorang penulis buku sejarah yang bertolak belakang dengan background pendidikannya di jurusan Pertambangan, ITB dan latar belakang pekerjaannya di BATAN.

Beliau bercerita, hobi mengumpulkan buku sudah ia mulai dari tahun 1970. Buku yang dikumpulkan tidak terbatas pada buku sejarah saja, namun buku-buku sastra pun termasuk didalamnya.

Ketika pensiun dari pekerjaannya di tahun 2002, beliau bercerita bahwa koleksi bukunya sudah sangat banyak dan beliau pun memutuskan untuk menjual koleksi bukunya tersebut.

Di tahun tersebut, beliau bertemu banyak pelanggan setia yang datang untuk membeli buku koleksi beliau. Tak disangka, ternyata inspirasi untuk menulis tentang Bandung kedalam sebuah buku datang dari para pembelinya. Salah satu pembelinya memberi ide kenapa bapak tidak menulis buku tentang Bandung saja? Mengingat referensi buku yang begitu banyak dimiliki oleh beliau. Selain datang dari pembeli tersebut, ide menulis datang pula dari pembeli lain. Saat itu pembeli tersebut bercerita pada beliau, ‘saya tuh sebenarnya ingin sekali menulis, namun saya tak punya waktu untuk melakukan hal itu’.

Dari obrolan bersama pembeli tadi, akhirnya pak Sudarsono memutuskan untuk mencoba menulis buku sejarah Bandung bersama rekannya Pak Lulus Abadi dengan buku pertama yang diberi judul ‘Album Bandung Tempo Doeloe’. Beliau berpikir, apa yang perlu beliau tunggu? Referensi banyak, waktu untuk menulis pun ada. Memang, inspirasi itu bisa didapat dari siapapun ya! πŸ˜€

Selesainya draft tulisan bukan berarti selesai masalah. Beliau bercerita, saat itu mencari penerbit yang bisa menerbitkan buku kita tak semudah seperti sekarang. Banyak sekali pertimbangan yang harus dipikirkan baik dari sisi penerbit maupun penulis.

Setelah mencari kesana kesini, akhirnya beliau bertemu dengan teman lamanya yang bekerja di salah satu usaha penerbitan. Jadilah Nav press menjadi penerbit yang menerbitkan buku pertama pak Sudarsono dan pak Lulus.

Namun masalah berikutnya hadir. Karena satu dan lain hal, Nav press tidak bisa menerbitkan buku kembali, karena alasan perbedaan visi Nav press dari jenis buku yang diterbitkan. Akhirnya, teman beliau yang bekerja di Nav press memutuskan keluar dan mendirikan usaha penerbitan sendiri dengan nama penerbit Kharisma. Dari sinilah, beberapa buku pak Sudarsono mulai diterbitkan secara rutin oleh penerbit Kharisma.

Selang beberapa tahun, usaha penerbitan lain mulai menarik minat terhadap buku-buku beliau. Salah satunya Kiblat dan Pustaka Jaya yang sudah cukup punya nama dalam dunia penerbitan. Dan, buku-buku beliau pun sebagian besar diterbitkan oleh dua penerbit tersebut hingga saat ini.

Saya selalu penasaran bagaimana caranya beliau bisa mengetahui jejak-jejak bangunan lama yang kini sudah berubah total dari kondisi sebelumnya, namun bisa beliau gambarkan dengan sangat apik dalam tulisannya?

‘Ketika kita ingin mengetahui jejak sejarah di suatu tempat yang kondisinya sudah berubah total dari kondisi sebelumnya adalah lihatlah lingkungan sekitarnya. Pohon, lokasi jalan, bangunan sekitarnya dan lain-lain. Lihatlah hal-hal kecil dari tiap sudut, dan bandingkan dengan foto-foto jaman dulunya, ketika banyak kesamaan didalamnya, bisa dipastikan bangunan bersejarah itu ada disana. Ketelitian dan referensi yang lengkap dan valid jadi kuncinya’ pungkas beliau.

Wow, jadi kayak menyusun puzzle ternyata ya! πŸ˜„

Setelah puas bertanya banyak hal tentang pengalaman beliau menulis dan isi-isi tulisan beliau, saya pun penasaran dengan koleksi buku beliau yang katanya ‘tinggal sedikit’. Oke. Setelah ditunjukkan, versi ‘sedikit’ antara saya dan beliau ternyata BEDA. πŸ˜†

Hampir di tiap ruangan ada rak buku besar menampung buku-buku langka milik beliau. Di ruang tamu, perpustakaan pribadi, ruang keluarga dan ruang tidur semuanya ada rak bukunya. Kecuali ruang tidur, kami diperbolehkan untuk melihat semua koleksinya.

Melihat koleksi buku beliau, seakan ingin membawa semua buku-buku itu. Benar-benar surganya pecinta buku langka. Saya dan teman saya sampai berkali-kali berkata ‘Ya ampun, bapak punya buku ini’, atau ‘Hoalah.. Ternyata ada ya buku tentang ini..’ dan ungkapan serta ekspresi lainnya yang mungkin menurut pak Sudarsono mah biasa aja kali.. Ga usah segitunya.. Hahaha..

Menurut beliau, ini adalah koleksi-koleksi pilihan milik beliau yang memang sengaja tidak dijual. Puas melihat semua koleksinya, keluar dari perpustakaan saya berhenti dan bertanya ‘Pak, dari sekian banyak buku milik bapak kok gak keliatan buku-buku teknik satu pun ya? Apa ini jadi gambaran minat sesungguhnya dari bapak?’ Pertanyaan saya dijawab oleh tawa beliau dan mengajak saya masuk kembali ke perpustakaan dan menunjukkan tumpukkan buku teknik di rak kecil paling bawah. Hampir luput dari mata saya. Giliran saya yang tertawa.

Setelah puas berbincang segala hal dan melihat koleksi beliau, kami pun pamit pulang. Tak lupa sebelum pulang saya mengeluarkan dua buah buku karya beliau untuk ditanda tangani sebagai kenang-kenangan.

Beberapa koleksi buku pak Sudarsono

Sesi akhir : tanda tangan buku πŸ˜„

Satu pesan beliau pada kami tentang menulis adalah ‘Jika kamu sudah mulai menulis, jangan sekali-kali membaca ulang isi tulisanmu. Lanjutkan saja menulis. Karena jika kita terus membaca ulang tulisan kita, pasti kita akan merasa tulisan kita kurang disana sini dan membuat kita ingin memperbaikinya lagi dan lagi. Ujung-ujungnya tidak akan pernah selesai tulisannya’

Dua jam yang sangat berfaedah sekali. Banyak ilmu yang saya dapat hari ini. Penulis yang concern tentang sejarah Bandung mungkin bisa dihitung dengan jari. Masih terbilang sedikit. Apalagi setelah sepeninggalnya penulis Haryoto Kunto yang bukunya sering dijadikan ‘kitab’ para pecinta sejarah Bandung. Kualitas dari buku yang dihasilkan oleh pak Sudarsono patut diapresiasi dan dijadikan referensi bagi kita untuk mengenal sejarah Bandung lebih dalam.

Bisa membaca buku sekaligus mengenal pribadi penulisnya adalah hal yang saya syukuri kali ini.

Terimakasih atas ilmunya pak Sudarsono! 😊

D’Moners Home Cafe. Cafe unik bertema kartun Doraemon!Β 

Yeay! Postingan blog pertama saya di tahun 2018. Awal tahun kita mulai dengan tulisan-tulisan ringan dulu lah ya.. Ringan tapi bikin laper.. πŸ˜„ 

Bicara tentang cafe generasi millenial, tampaknya faktor tempat yang photoable adalah salah satu faktor utama selain rasa yang harus dijadikan pertimbangan para pebisnis kuliner masa kini. Bukan tanpa alasan sih, era digital dan eksistensi di media sosial tidak bisa dipungkiri jadi salah satu gaya hidup generasi masa kini. Dan, cafe sebagai tempat nongkrong mereka, tak ayal harus mendukung gaya hidup tersebut. Tema cafe pun bermacam-macam. Salah satunya adalah tema kartun seperti hello kitty dan kungfu panda yang ada di Jakarta. Nah, di Bandung sendiri ada satu cafe yang mengusung tema yang tak kalah unik. Yaitu, doraemon! 

Siapa yang tak kenal Doraemon? Robot kucing yang punya banyak benda-benda ajaib dari sakunya? πŸ˜ƒ Sepertinya hampir seluruh orang di dunia tahu dengan kartun yang sudah ada dari tahun 1969. Semacam kartun yang everlasting gitu sampai sekarang. Kali ini saya ingin sharing tentang D’Moners Home Cafe yang berlokasi di Jl. PH.H. Mustofa No.73 Bandung yang mengusung tema si kucing robot Doraemon. 

Saya ga datang pas bulan puasa kok. Seriusan. πŸ˜†

Sesuai dengan namanya D’Moners Home Cafe atau singkatan dari Doraemon Lovers Home adalah tempat berkumpulnya para pecinta si kucing robot ini. Bahkan katanya dubber serial Doraemon sudah beberapa kali mampir ke cafe ini. Saat saya berkunjung pun cukup banyak orang tua yang membawa anak-anaknya mampir ke cafe ini. Bukti kalo Doraemon itu eksis lintas generasi. πŸ˜†

Lokasi cafe ini berada di samping jalan, hanya saja agak nyempil menurut saya. Harus agak jeli agar tidak terlewat. Plangnya ga begitu wah gimana gitu menirut saya.. Namun, pas masuk nuansa doraemon dan teman-temannya sangat terasa. 

Dinding cafe disulap dengan mural doraemon. Ada chalkboard yang menambah semaraknya cafe ini. Cafe ini punya 2 lantai. Lantai 1 disediakan untuk pengunjung yang suka duduk di kursi. Walaupun di pojok dekat dapur ada juga dua meja lesehan. Sedangkan lantai 2 disediakan untuk pengunjung yang suka duduk lesehan dengan tema kamar tidur Nobita lengkap dengan meja belajar dan lemari berisi komik-komik. (sesuai bacaan favorit Nobita) 

Suasana di lantai 1

Area lesehan di lantai 1

Mural Doraemon. Lagi. 😍

Oke. Karena saya penasaran dengan kamarnya Nobita, saya pilih lantai 2. Hihi. Ruangannya sih tidak terlalu besar ya, apa memang disesuaikan dengan kamar Nobita? Hehe. Tak kalah dengan lantai 1, di lantai 2 pun dindingnya diberikan sentuhan doraemon. Yang paling unik adalah wallpaper lemari tempat tidur doraemon dan wallpaper lapangan tempat bermain bola Nobita lengkap dengan beberapa boneka Doraemon yang sengaja disediakan bagi pengunjung yang ingin berfoto. Lucu sekali. Beberapa foto tokoh-tokoh serial doraemon pun terpasang rapi disini. Termasuk foto bapak guru yang konsisten kasih Nobita nilai 0. Haha.. 
Lemari buku.. Meja belajar. Oke. Meja belajar. Ini spot yang menurut saya unik. Ternyata laci mejanya bisa dibuka dan kita bisa masuk kedalam laci tersebut. Wow. Dibuat sama persis seperti meja belajar Nobita. Tapi jangan harap dengan masuk ke laci ini kalian bisa kembali ke masa lalu atau masa depan ya.. Hehe. 

Suasana di lantai 2

Ini dia laci meja belajarnya Nobita.. πŸ˜†

foodnotestories.com

Cukup penjelasan interiornya. Berikutnya, saya penasaran dengan menunya. Katanya sih, menu andalan cafe ini adalah dorayaki topping susu keju dan Ganari noddle nya.. Tanpa pikir panjang, saya pun langsung pesan 2 menu tersebut! 

Dorayaki topping susu keju… 😍

Ganari noddle


Dengan harga yang cukup terjangkau, rasanya enak menurut saya. Penataannya pun unik. Harga makanan berkisar 5.000-30.000 tergantung menu yang kalian pilih. 

Bagi kalian penyuka Doraemon atau sekedar ingin coba cari tempat nongkrong yang beda, bisa mampir ke d’Moners Home Cafe ini. 

Selamat berkunjung! πŸ˜‰

Alamat : Jl. PH.H. Mustofa, No. 73 Bandung

Jam buka : Tiap hari pukul 11.00 – 22.00 kecuali Jumat, pukul 13.00-22.00